Intro

...sebagai seorang yang tidak pandai berkata - kata, aku hanya terdiam sambil melihat bintang. Malam itu semua yang aku perjuangkan telah kandas dimakan waktu. Mimpi ku, harapan ku, bahkan cinta ku pun tak mampu ku selamatkan dari roda waktu.

Sebuah kota di bagian barat Xamael

 "Kaaaak, udah lama disini ?" tanya seorang gadis dengan dress putih yang telah lusuh.
"Ngak kok, aku barusan aja sampai." jawab seorang pria dewasa mengenakan jas hitam.
"Yuk kak, temen - temen ku yang lain udah nungguin kakak"  pria dan gadis tersebut berjalan beriringan di tengah keramaian pasar yang kumuh.

Mencolok ! ya pria dengan jas hitam tersebut sangat mencolok perhatian. Lingkungan yang kumuh dan perekonomian yang rendah tentulah bukan tempat yang tepat untuk mengenakan jas hitam. Tapi apalah mereka yang berkemampuan untuk meminta - minta, melihat pria dengan jas hitam mewah saja sudah gemetaran bukan main.

"Kak, nanti kalo masuk ke dalam sepatunya dicopot ya" usul gadis tersebut kepada pria dengan jas
"Sepatu kakak bersih kok ini sumpah" dengan nada bercanda pria berjas tadi menjawab sambil menunjuk sol sepatunya.
"Mana ?? kotor gitu kok, kan tadi kakak lewat pasar ya ga mungkin ga kotor dong" cetus gadis tersebut seolah - olah dia menggurui pria tersebut.
"Hahaha, iya kotor yaudah kakak lepas deh" pria tersebut mengakhiri percakapan mereka, kemudian ia melepas sepatu dan langsung mengikut gadis tersebut.

Itu adalah sebuah rumah tua yang menyerupai gereja. Langit - langit yang tinggi dan juga ruangan yang luas membuat pria tersebut bertanya - tanya dalam hatinya "siapakah orang yang menghabiskan uang untuk membangun ini di kawasan konflik ?". Pria dengan jas itu memperhatikan setiap detail di ruangan bahkan seekor laba - laba yang jatuh dari sarangnya pun ia melihatnya.

"Kak disini teman - temanku yang ku ceritakan, mereka semua..."

"Terkontaminasi virus yang dibuat kerajaan ?"

"Iya kak, kakak kok tau ?"

"Emang kamu pikir aku kesini untuk membelikan kalian baju baru gitu ? Oke cukup bercandanya."

Pintu dibuka dan tampaklah sekumpulan manusia - manusia yang bergerak tidak sesuai keinginannya. Raut wajah mereka menggambarkan kesedihan yang amat mendalam, namun tubuh mereka bergerak mengikuti irama musik rock yang hanya dapat di dengar oleh diri mereka masing - masing.

"TimeToSleep" begitu kata pria itu sembari meniupkan serbuk yang dibawanya,

Komentar